PASURUAN — Upaya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak. Di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pasuruan terlibat dalam penguatan program Desa Konservasi dan Tangguh Bencana.(18-09-2026)

Program yang dilaksanakan mahasiswa Unesa tersebut kini telah mendekati tahap akhir, dengan proses finalisasi dokumen Desa Tangguh Bencana (Destana) yang turut mendapatkan pendampingan dari FPRB Kabupaten Pasuruan. Setelah proses tersebut selesai, hasil program direncanakan akan dilokakaryakan sebagai ruang pembelajaran, evaluasi, dan dokumentasi praktik baik yang dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain.


Lebih dari sekadar penyusunan dokumen, program ini mendorong penguatan kapasitas masyarakat, pembentukan kader relawan, pelaksanaan simulasi kebencanaan, pengembangan sistem peringatan dini tanah longsor berbasis teknologi modern, serta konservasi lingkungan.


Belajar dari Risiko Longsor, Membangun Kesiapsiagaan Sejak Dini

Penguatan Destana di Desa Tlogosari menjadi relevan dalam konteks ancaman tanah longsor di wilayah Kecamatan Tutur. Berdasarkan laporan media, pada 5 Desember 2025 terjadi longsor di Dusun Tlogosari yang mengakibatkan seorang warga meninggal dunia ketika berupaya menyelamatkan ternaknya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Pemahaman terhadap ancaman, penguatan relawan, sistem komunikasi, dan kemampuan mengambil tindakan keselamatan menjadi bagian penting dalam pengurangan risiko bencana.

Melalui program Desa Konservasi dan Tangguh Bencana, mahasiswa Unesa mendorong pendekatan yang menghubungkan pengetahuan masyarakat, teknologi, konservasi lingkungan, dan penguatan kelembagaan desa.


Mahasiswa Unesa Laksanakan Simulasi Kebencanaan

Salah satu rangkaian kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa Unesa adalah simulasi kebencanaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman bencana.

Simulasi memberikan ruang bagi masyarakat dan kader relawan untuk mempraktikkan langkah kesiapsiagaan, memahami mekanisme komunikasi, serta mengenali pentingnya koordinasi ketika terjadi situasi darurat.

Dalam konteks ancaman longsor, simulasi dapat dikembangkan untuk menguji kesiapan penyampaian peringatan, pengambilan keputusan, jalur evakuasi, dan koordinasi antarunsur yang terlibat. Hasil evaluasi latihan menjadi bahan penting untuk memperbaiki prosedur dan memperkuat kesiapan masyarakat.

Kegiatan tersebut juga menegaskan bahwa edukasi kebencanaan perlu diikuti praktik langsung agar masyarakat memiliki pengalaman dalam memahami respons terhadap ancaman di wilayahnya.

Pengembangan EWS Longsor Berbasis Teknologi Modern

Program mahasiswa Unesa turut mengembangkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk ancaman tanah longsor.

Pengembangan teknologi ini diarahkan untuk mendukung pemantauan indikasi ancaman dan penyampaian peringatan kepada warga yang berpotensi terdampak. Sistem peringatan dini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam mengambil tindakan keselamatan.

Namun, keberadaan EWS perlu didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan. Perangkat teknologi harus diiringi dengan pemetaan risiko, prosedur komunikasi, pemeliharaan alat, pembagian peran relawan, serta latihan rutin yang melibatkan masyarakat.

Peringatan yang diterima perlu dihubungkan dengan prosedur tindakan yang jelas. Dengan demikian, pengembangan teknologi tidak berhenti pada pemasangan atau penggunaan perangkat, tetapi menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan desa yang dapat dipahami dan dijalankan bersama.

Konservasi Lingkungan dan Penguatan Kapasitas Masyarakat

Konsep Desa Konservasi dan Tangguh Bencana juga menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko.

Konservasi lingkungan dapat dilakukan melalui edukasi, pengelolaan lahan yang sesuai, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kondisi wilayah. Pelaksanaan kegiatan perlu mempertimbangkan hasil kajian risiko dan karakteristik lingkungan setempat.

Di sisi lain, penguatan kapasitas masyarakat dan pembentukan kader relawan menjadi fondasi agar program dapat berjalan secara berkelanjutan. Kader diharapkan dapat berperan dalam penyebaran informasi, edukasi kebencanaan, pemantauan kondisi lingkungan, dan mendukung koordinasi kesiapsiagaan sesuai tugas yang ditetapkan.

Kombinasi antara konservasi, edukasi, relawan, dan teknologi menjadi pendekatan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat Desa Tlogosari.

FPRB Pasuruan Kawal Regulasi, Indikator Destana, dan RKPDesa

Dalam proses finalisasi dokumen Destana, FPRB Kabupaten Pasuruan memberikan pendampingan serta arahan untuk memperkuat indikator Desa Tangguh Bencana.

Peran FPRB diarahkan pada penguatan kelembagaan, regulasi, kapasitas masyarakat, dan keberlanjutan program pengurangan risiko bencana. Pendampingan tersebut penting agar hasil kegiatan mahasiswa Unesa dapat terhubung dengan kebutuhan pembangunan dan kesiapsiagaan desa.

Salah satu perhatian FPRB adalah pengawalan kebutuhan pengurangan risiko bencana dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). Program seperti penguatan kader relawan, keberlanjutan EWS, edukasi masyarakat, dan konservasi lingkungan dapat dipertimbangkan dalam proses perencanaan sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku.

Integrasi ke dalam perencanaan desa menjadi langkah penting agar kegiatan tidak berhenti setelah program mahasiswa selesai. Keberlanjutan membutuhkan dukungan pemerintah desa, partisipasi masyarakat, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas pihak.

FPRB juga berperan dalam memberikan arahan terkait indikator Destana, sehingga proses penguatan desa dapat diarahkan pada aspek-aspek kesiapsiagaan dan ketangguhan yang perlu dikembangkan berdasarkan kondisi setempat.

Kolaborasi untuk Ketangguhan dan Keselamatan Masyarakat

Kolaborasi mahasiswa Unesa dan FPRB Kabupaten Pasuruan dalam program Desa Konservasi dan Tangguh Bencana Desa Tlogosari menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi, organisasi kebencanaan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan.

Mahasiswa Unesa berkontribusi melalui program penguatan kapasitas, pembentukan kader relawan, simulasi, inovasi EWS, dan konservasi lingkungan. Sementara itu, FPRB Kabupaten Pasuruan mendampingi proses finalisasi dokumen Destana, memberikan arahan penguatan indikator, serta mendorong perhatian terhadap regulasi dan pengawalan RKPDesa.

Keberlanjutan program menjadi tanggung jawab bersama. Hasil yang telah dibangun perlu terus dikembangkan melalui dukungan kelembagaan, evaluasi, dan partisipasi masyarakat.


Bersama Unesa dan FPRB Kabupaten Pasuruan, Desa Tlogosari didorong untuk terus memperkuat langkah menuju desa konservasi dan tangguh bencana—dari edukasi, simulasi, dan inovasi teknologi hingga penguatan regulasi dan perencanaan pembangunan desa.


Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Desa Tlogosari sekaligus menghadirkan pembelajaran yang bermanfaat bagi pengembangan Desa Tangguh Bencana di wilayah lain